dari Abu Hanifah Al-Furqon untuk Para Pemuja Akal
Ane semakin heran dan tidak habis pikir, pada orang-orang yang berani mengesampingkan dalil syar’i, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah, hanya dengan pertimbangan akal semata. Padahal Allah telah mengingatkan hal ini:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS.Al-Ahzab: 36)
Yah…memang sangat tidak pantas jika kita telah mengetahui kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, kemudian kita menolaknya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Hujurat: 1)
Saudaraku, Islam adalah agama yang telah sempurna. Sebagaimana yang telah termaktub di QS.Al-Maidah ayat 3. Artinya, apa yang menjadi agama pada saat itu, maka ia akan menjadi sampai saat ini, dan sampai hari akhir nanti. Begitu pula apa yang tidak menjadi agama pada saat itu, maka sampai pun tidak akan menjadi agama ataupun bagian dari agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita tentang segala perkara. Dan kita harus meyakini bahwa apa2 yang diperintahkan atau diajarkan Rasulullah, pasti benar dan baik adanya. Begitu pula semua yang dilarang oleh beliau sudah pasti buruk bagi kita.
Segala perselisihan yang terjadi saat ini, hanya satu solusinya yaitu kembali pada Sunnah Rasul dan Khulafaurrasyidin.
“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. (Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).”
(HR. Nasa’i dan At-Tirmi-dzi)
Maka, tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa kembali pada As-Sunnah tidak tepat dilakukan pada jaman sekarang. Ini merupakan sebuah bentuk penghinaan terhadap Rasulullah, karena orang yang berkata seperti itu berarti tidak meyakini bahwa apa yang dikatakan Rasulullah adalah benar dan baik, sehingga ia mencari-cari cara lain, diluar apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Padahal ajaran islam itu telah sempurna sejak turunnya ayat terakhir hingga akhir zaman nanti.
Coba antum semua pikirkan, mana yang benar, zaman yang menyesuaikan diri dengan islam? Atau islam yang menyesuaikan diri dengan zaman?
Kalau antum menjawab yang benar adalah pernyataan yang kedua, berarti antum telah menganggap ajaran islam belum sempurna, sehingga perlu di-revisi, dan disesuaikan dengan zaman. Padahal kita telah mengetahui bahwa islam ini telah sempurna, dan akan tetap berlaku di zaman apapun itu.
Saudaraku, yakinilah bahwa semua yang diajarkan Rasulullah itu benar, baik, dan akan tetap berlaku sampai kapan pun. Kalo ada yang beranggapan bahwa cara Rasulullah tidak tepat lagi diterapkan pada zaman sekarang, maka sekali lagi ini adalah pendapat yang bathil.
Kalau kita semua mengakui bahwa semua yang datang dari Allah dan Rasul-Nya itu benar, dan segala yang dilarangnya itu salah. Maka tidak perlu kita berpikir dua kali untuk melaksanakan ataupun meninggalkannya.
Ingat, agama jangan diakal-akali, karena sesungguhnya akal manusia itu sangat terbatas. Prinsip kita dalam beragama adalah sami’na wa ata’na, kami dengar dan kami taat. Jika sampai kepada kita sebuah dalil syar’i dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka tidak ada kata lain, selain mengamalkannya, tanpa perlu banyak pertimbangan. Karena sudah pasti apa yang datang itu benar dan baik. Segala sesuatu yang diperintahkan Rasul maka kerjakanlah, dan segala yang dilarangnya maka tinggalkanlah, titik.
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS.Al-Maidah: 92)
Ketahuilah, bahwa sehebat apapun pemikiran dan akal kita, itu sama sekali tidak ada apa-apanya dengan segala sesuatu yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya.
Untuk itu, marilah kita menerima islam ini secara kaffah dan benar, tanpa menambah dan tanpa menguranginya sedikitpun.
Semoga Allah senantiasa menunjukkan kepada kita bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, serta kita diberi kekuatan untuk menjalankan kebenaran dan menjauhi kesalahan tersebut.
Wallahu A’lam Bishawab…